Skip to main content
17 September 2023

Pesona Pagi Hari di Kampung Adat Ratenggaro Sumba

Pesona Pagi Hari di Kampung Adat Ratenggaro Sumba

Pagi buta saya di bangunkan untuk segera berangkat dari kampung Praijing menuju Kampung Ratenggaro. Kalau saya cari cari di google sih jaraknya sekitar 70Km. Perbedaan antara kampung tersebut, kalau kampung Praijing suhunya dingin karena berada di dataran tinggi tapi kalau Kampung Ratenggaro berada di pesisir pantai Ratenggaro dan inilah Pesona Kampung Adat Ratenggaro Sumba

Kampung Ratenggaro

D810, AF-S 85mm f/1.4

Sesampainya di wilayah kampung Ratenggaro, Suasana masih begitu gelap tapi tidak mencekam sih. Hanya saja saya kesulitan untuk mecari angle yang bagus untuk pengambilan foto.
Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 14-24mm f2.8 || 14mm, 1/30, f/7.1, ISO-50 ||

Suasana Pagi Hari dengan View Pantai dan Batu Kubur. Pukul 06.29 WITA

Mau coba explore sendiri juga takut terperosok dalam semak-sema. Akhirnya sambil mendengar irama deburan khas ombak air laut yang sedang surut, saya menunggu muncul temaram terbitnnya sinar mentari pagi.

Kampung Ratenggaro ini berlokasi di kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya. Waktu tepuh saya ketika berangkat pagi buta dari kampung Praijing tidak diketahui karena saya tidak lihat jam dan juga tertidur selama perjalanan.

Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 14-24mm f2.8 || 20mm, 1/40 , f/16, ISO-80 ||

Suasana Pagi Hari dengan View Pantai dan Batu Kubur. Pukul 06.29 WITA

Apa yang menjadi daya tarik kampung ini sehingga kamu harus melihat dan datang sendiri ke kampung ini walau tidak ada akses infrasturktur kendaraan menuju kampung ini (saat itu 2016). Kalau buat saya pribadi kampung ini menyajikan paket kumplit. Apa saja itu? yuk lanjut

Kampung Ratenggaro
Kampung Ratenggaro
Lansekap keindahaan pantainya bisa kita lihat dari tas bukit. Rumah adat yang unik dengan atap yang begitu tinggi menjulang melewati atap rumah kamu. Tinggi atapnya bisa mencapai 10-20m lho 😲.
Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 14-24mm f2.8 || 24mm, 1/125 , f/18, ISO-250||

Atap Yang Menjulang Tinggi. Pukul 08.11
Namun atap yang tinggi itu bukan untuk gaya-gaya-an saja ya, melainkan atap yang tinggi tersebut memiliki makna dan fungsinya juga. Tapi Saya tidak akan membahas perihal itu disini, karena saya rasa sudah begitu banyak artikel yang menulis mengenai atap rumah adat Sumba.
Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 14-24mm f2.8 || 16mm, 1/80 , f/16, ISO-125||

Anjing Menyambut Hangatnya Matahari Pagi
Lalu orang-orangnya juga cukup asik untuk menjadi people portait sebenarnya, apalagi bila sedang nyale (hunting cacing laut) jelang pasola, Semaraknya dan serunya gak kalah dari Rambu Solo’ nya Toraja.
Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 14-24mm f2.8 || 24mm, 1/125 , f/18, ISO-250||

Pemuda Ratenggaro
Tapi entah kenapa ketika kedatangan kami terlihat begitu sepi. Mungkin orang-orangnya masih melaut atau juga masih ada yang tidur. Atau masih sibuk beres-beres urusan pagi.
Kampung Ratenggaro
adat menerima tamu dengan nose to nose
Kampung Ratenggaro
Wajah silau karena masih ngantuk (mungkin)
Kampung Ratenggaro

Menyambut Kedadatangan

Selanjutnya Kampung adat Ratenggaro ini memiliki batu-batu kubur megalitik yang besar dan keren. Goresan-goresan masterpiece terlihat dalam ukiran di setiap batunya. Saya aja kalah tinggi sama batunya, apa memang dasarnya saya pendek ya? 😬
Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 70-200mm f2.8 || 70mm, 1/640 , f/4.5, ISO-100||

Begitu Banyaknya Batu Kubur di Dalam Komplek Kampung Adat Ratenggaro, Pukul 06.57
Sebenarnya saya lebih suka memotret daily life masyarakat, tapi karena memang tidak banyak orang pada kedatangan saya, jadi apapun yang saya temui ya saya foto saja. Akhir kata, selamat menikmati sajian foto-foto Kuburan Orang Garo ( Rate = Kuburan, Garo = Suku (orang-orang) Garo)
Kampung Ratenggaro

Nikon D810 AF-S 70-200mm f2.8 || 70mm, 1/500 , f/5, ISO-100||