Skip to main content
22 December 2023

Sasando : Bertahan dari Kepunahan

Sasando : Bertahan dari Kepunahan

Mobil yang kami sewa selama di Kupang melaju santai menuju jalan Timor Raya km 22, Desa Oebelo, Kupang Tengah. Kami menuju kediaman salah satu seniman, mungkin juga budayawan yang legendaris menurut saya. Matanya melirik kedatangan mobil Toyota Avanza silver kami yang baru sampai di depan rumahnya. Ia pun bergegas bangkit berdiri bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian daerah beserta topi khas Rote yang terbuat dari anyaman lontar yang bernama ti’Ilangga, bersiap menyambut kedatangan kami. 

Pria asal Rote ini sudah berusia lebih dari 75 tahun. Bayangkan? diusia yang sudah senja ini beliau masih terus melestarikan alat musik yang dibawanya dari pulau Rote pada tahun 1985. Kami berempat mendengarkan kisah perjalanan beliau dalam memperkenalkan alat musik yang terbuat dari bambu dan daun lontar ini.

NIKON D800 || 35.0 mm f/1.4 || 35mm, 1/160, f/2.2, ISO-400||

Tak heran bila Ia menerima beberapa penghargaan dari kementerian kebudayaan dan pariwisata Indonesia dengan memberikan gelar seorang Maestro dalam hal alat musik tradisional Sasando.

Wajah nya terlihat penuh semangat dalam menceritakan beberapa penghargaan-pengharagaan yang Ia raih baik lokal maupun Internasional. Ia bangkit berdiri dan berjalan pelan menunjukkan beberapa penghargaan yang ia raih di teras depan rumahnya sekaligus dijadikan show room Sasando yang diperjual belikan sebagai souvenir untuk wisatawan yang berkunjung ke rumahnya.

NIKON D800 || 35.0 mm f/1.4 || 35mm, 1/125, f/2.8, ISO-400||

Terlihat tulisan tangan di buku tamu yang mayoritas di kunjungi oleh wisatawan asing yang minat dengan alat musik  ini. Karena fotonya lagi merem jadi saya tidak pasang ketika megang pengharagaannya ya.

Bapak dengan nama lengkap Jeremias Ougust Pah ini ternyata ayah dari Bertho Pah, salah satu peseta acara Reality Show Indonesia Mencari Bakat yang kini sudah sukses memperkenalkan alat musik tradisional ini ke penjuru dunia. Bukan hanya Bertho Pah, Djitron pah sangat lihai dalam memainkan Sasando, Ia memainkan Sasando hingga ke Italia. Eropa punya Harpa , Indonesia punya Sasando.

NIKON D800 || 35.0 mm f/1.4 || 35mm, 1/125, f/2.8, ISO-400||

Menurut saya tak perlu malu kita memainkan alat musik tradisional, selama kita tekun dan selalu kreatif dalam berkarya pasti kita mampu membawa Indonesia terkenal dengan keaneka ragaman alat musik tradisonalnya. Tak sia-sia memang perjuangan Bapak Jeremias Pah akhirnya membuahkan hasil yang lura biasa di saat Sasando mulai punah.
“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.” Kami berempat bernyanyi bersama ketika Pak Jeremias memainkan lagu Indonesia Pusaka dengan senar di Sasandonya. Jari yang sudah tua itu tampak masih lincah dalam memetik setiap dawai. Sungguh kekaguman yang luar biasa dalam hati saya. Beliau mampu membuat alat musik dengan alunan suara bening seperti harpa. setelah itu Iapun memainkan lagu daerah yang membuat kami terhanyut dalam irama musiknya.

NIKON D800 || 35.0 mm f/1.4 || 35mm, 1/125, f/6,3, ISO-400||

Setelah mempertontonkan kemahirannya dalam memainkan Sasando, kami membeli beberapa souvenir Sasando dengan kisaran harga Rp 35.000 – 400.000 untuk kami bawa pulang. Saya memilih sasando dengan ukuran kecil agar mudah di bawa dan tak rusak apabila disimpan di dalam tas. Lalu kami berfoto bersama dengan Bapak Jeremias sebelum kami berpamitan.