“Bli , di Kintamani nanti mampir dulu di warung kopi bisa ya? dah ga tahan lagi nih mata.” ujar saya ketika suhu udara di luar mulai berubah terasa sejuk khas dataran tinggi. Kopi Bali Kintamani emang sudah sangat terkenal hingga mancanegara, mencicipi olahan kopi langsung di daerahnya menjadi salah satu tujuan saya yang kebetulan kalau saya duduk di mobil dalam waktu cukup panjang, mata saya tuh maunya auto merem aja. Namun perjalanan solo ke Bali ini bukan untuk menikmati deburan ombak dan halusnya pasir putih di pulau seribu pura ini.

”Oke, bisa Bang!” Jawab Eka, driver saya selama di Bali. Eka namanya, driver saya yang masih muda, Ia berusia 23 tahun (saat itu). Ia awalnya bingung kenapa tamu yang ia bawa hari itu hanya seorang diri. Karena biasanya Ia membawa tamu rombongan atau minimal 2-3 orang. Selain itu juga, awalnya Ia tak mau mengantarkan saya ke Kintamani karena jarak tempuh yang jauh. Namun setelah benegosiasi panjang Ia pun mau juga mengantarkan saya dan saya sogok juga dengan jajanan selama perjalanan hehehe...

Akhirnya perjalanan saya seorang diri ke Kintamani berhasil juga. Selama di perjalanan, Ia bercerita mengenai kebudayaan dan pariwisata di daerah Bali. Cerita Eka ini merupakan cerita pengantar tidur untuk saya, karena memang pada saat itu sedang mengantuk sekali dan akhirnya saya tertidur juga selama perjalanan menuju Kintamani.Tujuan pertama saya adalah mencari kopi agar mata dan pikiran kembali fresh. Dan perjalanan ini saya lalui dengan mata tertutup Zzzzz.


“Bang, kita sudah sampai” Panggil Eka sambil menepuk pundakku yang sedang tertidur lelap.
“Oh dah sampe ya” jawab ku sambil lihat sekitar dan sedikit bingung.
Awalnya Saya berpikir akan diantarkan ke warung kopi atau kedai semacamnya, ternyata Eka mengantar saya ke tempat agrowisata pembuatan kopi kintamani sekaligus kopi luwak. Sayapun segera turun dan tak lupa untuk membawa kamera saya.

Bayung Bagus nama Bali Coffee Plantation Visit yang saya kunjungi disini. Udara sore cukup sejuk untuk saya dengan sedikit hangat matahari sore yang sudah mulai menguning. Kedatangan saya di sambut oleh pelayan di tempat ini dan di perlihatkanlah proses gongseng kopi dan luwak yang ada di dalam kandang. Kopi Kintamani sudah dikenal oleh semua masyarakat Indonesia bahkan sampai dunia. Rasa manis dan lembut terdapat pada kopi jenis arabika ini.


Jenis arabika yang terdapat di kopi bali ini tidak terlalu pahit dan juga tidak terlalu sepat. Kopi ini tumbuh subur di Kintamani karena jenis kopi Kintamani ini cocok untuk kopi jenis arabika yang berada di ketinggian kurang lebih 900mdpl.

Pastinya kopi Kintamani ini mampu menggerakkan perekonomian petani setempat dan masyarakat sekitar. Setelah melihat-lihat penggongsengan kopi saya diantar oleh pelayannya untuk duduk dan menikmati tester kopi gratis darinya. “wah lumayan rejeki nih.” saya berkata dalam hati. Tak lama menunggu di bawakan lah enam cangkir kecil dengan jenis minuman berbeda-beda. terdiri dari :
Saya coba masing-masing cangkir dan memberikan satu cangkir coklat bali kepada Eka. Hmmmm…lumayan menghangatkan otak dan tubuh saya ketika saya coba kopi Bali ini. Saya masih penasaran dengan perbedaan kopi luwak bali dengan kopi biasa.
1. Bali Coffee
2. Bali Cocoa
3. Chocolate Coffee
4. Gingseng Coffee
5. Ginger Tea
6. Lemon Grasstea
Saya coba masing-masing cangkir dan memberikan satu cangkir coklat bali kepada Eka. Hmmmm…lumayan menghangatkan otak dan tubuh saya ketika saya coba kopi Bali ini. Saya masih penasaran dengan perbedaan kopi luwak bali dengan kopi biasa.

Kopi luwak memang lebih mahal dari kopi biasa. karena memang proses pemilihan biji kopi terbaik ini dipilih oleh luwak itu sendiri sehingga kekuatan rasa dan aroma lebih baik. Kopi bagi luwak hanya buah untuk pencuci mulut saja bukan makanan utamanya, jadi jangan berharap luwak akan makan dengan lahapnya. Mereka tidak dapat mencerna biji dengan tingkat kepadatan tertentu sehingga ketika membuang kotoran, biji kopi masih utuh. Selain itu kopi luwak memiliki kadar keasaman dan kafein yang lebih rendah daripada kopi biasa. Dan masih banyak hal yang mempengaruhi harga mahal dari kopi luwak Bali ini. Saya pun memesan kopi luwak yang dihargai Rp 50.000/cangkirnya…

Saya cium aromanya…., Saya sruput perlahaaaan….aaahhhh, benar-benar nikmaaaat tak terhingga bagi pacandu kopi. Saya pun langsung jatuh cinta dengan rasa kopi Luwak Bali ini. Rasanya memang berbeda dengan kopi biasa. Saya sarankan agar kopi lebih terasa lebih baik dinikmati tanpa gula. Dan terpaksa saya belanja satu kantong kopi luwak seharga Rp 190.000 untuk 50gr untuk saya bawa pulang. Perjalanan berikutnya adalah menuju danau Batur.

Note :
Perjalanan ini di lakukan pada tahun 2014. Ketika belum banyak warung kopi modern.Tentunya ada perubahan lokasi, harga, nama toko yang tertulis dalam blog ini. harap maklum karena tulisan ini merupakan migrasi dari website lama.