Skip to main content
22 December 2023

Gili Lawa : Pulau Cantik Untuk Menikmati Sunset

Gili Lawa : Pulau Cantik Untuk Menikmati Sunset

“Padar sama Gili Lawa, beda jauh sama padar, Di Gili lawa kita bisa naik gunung dan sunsetnnya bagus sekali” Begitulah kira-kira yang keluar dari ucapan Kapten Farhan yang sedang mengendalikan kapal nya menuju Gili Lawa.

Kapal yang kami tumpangi menerjang ayunan ombak  menuju gili lawa

Memang Gili Lawa sudah menjadi target untuk saya kunjungi, kala itu Pulau Padar belum se-femes saat ini di kalangan traveler maupun photographer. Dan sebenarnya bila ada waktu cukup, Saya juga ingin mengunjungi pulau Padar yang saat itu masih “semi-perawan”.

Tapi entahlah, sepertinya pak kapten ini memang tak ingin mengantarkan kami ke Pulau Komodo dan Padar karena pertimbangan biaya kami ya seadanya saja, terlebih waktu kami juga yang terbatas, bisa juga karena malas yang disebabkan jarak yang jauh

Pemandangan pulau-pulau selama perjalanan

Jadi tujuan utama kami dengan kapten Farhan ini adalah Pulau RInca dan Gili Lawa. Selesai kami berkeliling ringan di pulau Rinca, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, hidangan santap siang sudah tersedia di meja kapal. Perjalanan Rinca ke Gili Lawa membutuhkan waktu 2 jam, Total 4 jam berlayar bila start dari Labuan Bajo.

Mungkin ada yang tahu nama pulau-pulau di sekitaran komplek Kepulauan Komodo ini?

Perjalanan 4 jam di laut itu menurut saya perjalanan yanga begitu panjang dan membosankan, memang sih awalnya happy, tapi lama kelamaan mulai suntuk juga. Namun ada hal mendadak yang membuat kami semangat lagi. Lumba-lumba!! Iya…, kawanan lumba-lumba loncat-loncat mengiringi perjalnan kapal kami hanya beberapa detik saja. Saya langsung mengambil lensa panjang saya untuk mengambil gambar…”pret.. pret…preet..preet” itu bukan suara mencret ya, tetapi suara shutter yang dihasilkan oleh kamera Nikon saya. Jadi deh…!

Tidak terasa langit mulai menunjukkan warna ke emasannya, hati pun ikut panik dan gelisah, karena tujuan tak kunjung sampai- sampai juga. “Yang mana bang Gili Lawa?” tanya saya sambil melihat-lihat gugusan pulau. “Yang depan itu!” Jawab Kapten sambil menunjuk pulau yang berada di depan.

emang terlihat seperti dekat, tapi kok kapalnya tidak sampai-sampai juga ya, ucap saya di dalam hati. Dari kapal saya dapat melihat di atas puncak ada beberapa orang yang sedang menunggu sunset. Terlihat burung elang dewasa sedang mengitari atas bukit sedang memasang mata untuk mencari-cari mangsa untuk makan malam. Saya menyadari, kalau saya akan telat mendapatkan moment sunset pada saat itu.

Kapal kami perlahan mulai melambatkan kecepatannya, terlihat ada beberapa kapal yang sudah lebih dulu singgah di tepi pantai Gili Lawa. Kami segera turun dari kapal dan berjalan cepat. Melihat atas puncak tampak begitu jauh dan matahari mulai memerah, rasa hopeless mendapatkan sunset semakin besar #PasrahDong.

Namun keinginan kuat saya untuk mendapatkan gambar sunset di pulau ini mengalahkan hopeless saya. Walau napas terengah-engah dengan beban kamera yang cukup berat, saya terus naik dengan bengek tak terkira. Terlihat Ady teman kami, bengek tertinggal di paling belakang dan memutuskan untuk tidak ikut untuk melihat keindaahan panorama gugusan pulau dari atas puncak Gili Lawa. Baiklah semoga Ady tidak menyesal ya…

Matahari mulai turun sembunyi di batas horison barat. Sudahlah, langsung saja saya tancapkan tripod dimanapun saya berpijak. Metering secepatnya, pasang filter yang kadang-kadang suka bikin rempong bila tergesa-gesa. Langsung jepret!!

“Click” hanya beberapa frame saja, matahari sudah hilang di ufuk barat. Memang hati rasanya belum puas, tapi ya sudahlah, memang sudah ketentuan-Nya harus begini. Kami naik ke puncak ketika para wisatawan asing dan lokal sudah turun. Ketika langit mulai gelap kami turun, kembali ke kapal untuk makan malam dan berisitriahat dalam kapal di tepi pantai Gili Lawa. Karena kegagalan sunset, kami pun sepakat  merencanakan untuk naik kembali untuk sunrise-an.

Dering alarm ponsel membangunkan saya kala shubuh. Saya segera bangun dan shalat shubuh, setelah itu mempersiapkan alat perang untuk sunrise. Wah ternyata teman-teman semangat juga ingin naik ke puncak untuk melihat sunrise. Termasuk Ady yang ingin balas dendam atas kegagalannya sore kemarin untuk mandaki puncaknya. Oke…!, kami sudah siap semua.kami mulai turun dari kapal. Suasana sangat gelap saat itu, kami hanya diterangi sebatas lampu led yang saya terikat di kepala saya.

“Jbuuuuuuur” suara seperti orang yang sedang loncat berenang dari atas kapal. Pikir saya saat itu adalah kapten kapal, Bang Farhan loncat berenang subuh-subuh untuk mencari ikan, atau mungkin orang dari kapal tentangga yang berenang. Usut punya usut ternyata Ady tidak sangat tercebur di laut. Wah kami berempat bingung antara harus tertawa atau berduka. Tapi cenderung tertawa sih.

Ady selalu membawa tas kecil slempang di bahunya, yang saat itu saya menitipkan tiket pesawat kembali dan ada iphone punya Wildan di dalam tas kecilnya itu. Wah kejadian itu benar-benar konyol 😂, Kami membantu menerangi Ady yang terpeleset karena salah menginjak anak tangga, untung saja lautnya tidak dalam ya Dy. Ady akhirnya membatalkan (lagi) untuk menaiki puncak Gili Lawa, semoga next time bisa ya.

Kami berempat mulai mendaki. Mendaki di kala gelap memang lebih mudah dibandingkan dengan mendaki saat terang. Stamina lebih ada dibandingkan sore hari. Walaupun masih terengah-engah namun kondisi tetap fit untuk terus mendaki. Dicky, Wildan, Luthfi dan saya akhirnya sampai di puncak.  

Matahari belum terbit, kondisi masih begitu gelap dan masih sulit untuk melihat sekitar. Selang beberapa menit, rona-rona jingga kemerahan sudah terlihat. Dan akhirnya terbit juga. Penampakan tidak berbeda jauh, hanya saja posisi arah datangnya sinar yang membedakan. Tetapi mau sunset ataupun sunrise di Gili Lawa memang tempat yang cantik untuk dinikmati.