Skip to main content

Street Photography : 8 Hari di Sumbawa, Dapat Apa Saja?

Street Photography : 8 Hari di Sumbawa, Dapat Apa Saja?

“NEGATIF” ya…hasil PCR pada hari itu negatif, artinya keberangkatan Saya ke Sumbawa postif. Rasanya seperti rujak, aneka rasa deh saat itu, ada khawatir, ada rasa ga enakan, ada juga rasa senang juga. Karena saat itu virus covid-19 sedang naik-naiknya di kota besar Indonesia. Pada kesempatan ini saya mencoba bekerja sambil hunting street photography atau human portrait di Sumbawa.

Street Photography seorang anak melihat jendela kapal

Dengan tetap berdoa dan prokes saya yakinkan InsyaAllah saya pulang dan pergi dengan sehat. Okelah, Tanggal 10 July 2021 saya bangun pukul 01 : 00 am dan mandi agar segeran. Jam 2 : 00 am saya order GoCar menuju bandara Soetta.

Street Photography tampilan dapur belakang rumah penduduk sumbawa
Suasana Pagi Hari dengan View Pantai dan Batu Kubur. Pukul 06.29 WITA

Bandara terlihat begitu sepi namun pesawat penuh. Anehkan? Pesawat di berangkatkan pada pukul 05 :40 am namun saya sudah stand by sejak pukul 3. Btw ini perjalanan dalam rangka kegiatan pelayanan medis gratis yang diadakan oleh DoctorShare Indonesia. Jadi kami berangkat dengan total 12 orang yang tiba di Sumbawa. 

Street photography wajah penduduk sumbawa

Jalur perjalanan saya dari CGK – LOP (Lombok), Sarapan nasi balap di Bandara (yang kata driver bandara lombok nasi balap nya KW itu wkwkwk), setelah sarapan kami menuju pelabuhan Kayangan di Lombok Timur untuk menyeberang ke Sumbawa. Tiket penyeberangan sebesar Rp 17.000,- yang memakan waktu kurang lebih 2 jaman ya Full Music Loh! 😉

random shoot street photography tangkapan nelayan
random shoot street photography

Setelah 2 jam-an kuping “pekak” di dekat speaker, akhirnya sampai juga dong di Pelabuhan Pototano, Sumbawa. Dari Sumbawa kami sudah di jemput oleh penduduk lokal Desa Labuhan Haji, Dusun Terujung, Padaelo,Kec. Tarano Sumbawa. nah lengkap ga tuh saya tulisnya. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam ya kalau ga salah. 

Street photography Rumah kampung Nelayan Sumbawa

Karena tidur, tau tau sudah malam saja dan kami di sambut oleh banyak penduduk. Wah terharu sekali rasanya. Kedatangan seorang dokter di tunggu-tunggu di desa ini. Saya yang bukan dokter juga tiba-tiba serasa jadi auto dokter. Pada intinya saya bekerja sebagai media di untuk kegiatan PelMed Sumbawa ini. Kegiatan PelMed berlangsung dimulai pada tanggal 12 July karena tgk 11 nya pembukaan oleh Bupati Sumbawa.

Seorang bapak sedang duduk dan merokok

Pemeriksaan dimulai dari cek tensi, cek gula darah, kolesterol, asam urat, anamnesa, circumcision (sunat), KB, hingga bedah minor. Kok ga ada bedah mayor? Iya, untuk kali ini ga ada, karena kapal dr.Lie Dharmawan RSA Bahenol( Bahenol : Nama kapalnya) mengalami musibah di selat Sape pada saat menuju kampung ini. Sehingga membakar hanguskan seluruh props yang ada di kapal, Syukur Alhamdulillah tiada korban dalam musibah ini. 

Masyarkat kampung Nelayan Sumbawa

Selama disini kami tinggal di rumah penduduk yang berdekatan dengan gedung serbaguna desa, dimana tempat pelmed diadakan. Hampir seluruh rumah di dusun ini bermodel rumah panggung ala-ala Bugis style yah. Karena memang seluruh penduduk di kampung ini adalah suku Bugis yang hampir seluruh mata pencahariannya nelayan atau pelaut, bahasa  yang digunakannya juga bahasa Bugis. 

Melawan matahari

Nah di sela-sela waktu, Saya menyempatkan waktu untuk berkeliling dan membangun hubungan dengan masyarakat setempat agar lebih asyik motretnya.  Dusun Terujung ini di kelilingi oleh lautan, di setiap tepi rumah terdapat tempat penjemuran rumput laut, udang rebon dan bubu.

Rumah ada sumbawa
Perbaikan rumah

Komunikasi 

Pada saat berkeliling saya mulai memutuskan menggunakan lensa fix ada yang 50mm ada juga yang 35mm tergantung mood apa yang saya ingin foto di hari tersebut. Ya.. bisa di katakan untuk street disini saya lebih dapat dikatakan human portrait ya. Saya lewat, Saya sapa, Saya ngobrol dan motret, dan tunjukkan hasil fotonya kepada orang yang saya foto. Ya sesederhana itu sih, namun terkadang yang bikin sulit adalah kita sendiri. 

Street Photography Harus Berani

Kadang kala kita selalu bermain dengan pikiran sendiri bahwa orang tersebut tidak suka atau marah dengan apa yang kita lakukan kepadanya. intinya BERANI! berani di tegor, berani di marahi haha…

anak dan ibu di rumah

Komposisi Dalam Street Photography

Beberapa metode agar dapat komposisi yang “pas” yaitu menggunakan Shoot From The Hip. Sebagai teknik umum, jangan mager kalau lagi nyari foto dengan perspektif yang kurang pas dengan posisi eye level, coba untuk meraba-raba dengan sedikit menunduk. 

Anak-anak sedang bermain

Street Photography Jangan Ragu Pencet Shutter 

Yang terakhir jangan menunggu, jangan pilih-pilih. Kamera jaman sekarang kan bisa delete dan jepret ulang. Jadi  tidak perlu kehabisan roll film ya. Ketika sudah mastery, insting kamu pasti akan langsung tahu kapan harus motret di moment yang tepat. Seperti halnya yang saya lakukan ini.

nelayan

Saya lagi mengasah insting mata yang sudah lama di bungkam. Akhirnya bisa motret lagi.  Sebenarnya masih ada beberapa foto lagi yang ingin saya share disini, tetapi nanti jadi berat deh ni website. Untuk foto saya berikan keterangan exif sebagai ganti watermark juga sekalian bagi para pemula yang ingin cari inspirasi, terkadang kan melihat exif foto-foto orang (seperti saya dulu di awal-awal). Dan pada dasarnya exif itu ga mengikat, karena akan selalu berubah-ubah seperti hati saya. #cakep

street photography motor parkir

Terima kasih juga saya ucapkan kepada DoctorShare dan seluruh tim dokter dan media atas kesempatan ini, juga  saya ucapkan terimakasih kepada seluruh penduduk Dusun Terujung, Desa Labuhan Haji atas semua kebaikannya.

gadis sumbawa di jendela