Gemericing suara derap kaki hentakkan bumi, di batasi oleh bukit-bukit yang menyajikan pesona alam nan indah. Pesona bawah laut yang selalu dinanti para pecintanya. Dimanakah itu? Mari lihat lebih dalam di Kota Kenari, Kalabahi, Alor Kepulauan di tenggara timur Indonesia.

Deru mesin mobil kami begitu kencang menaiki bukit-bukit curam dan sempit. Kelok-kelok jalan membuat kami terombang-ambing kala seperti di lautan lepas. Hempasan rindang ranting pepohonan memasuki mobil kami. Tidak jauh dari pusat kota, kami dapat melihat lansekap yang begitu indah. Kota Kalabahi di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Kota yang masih belum terlalu terjamah oleh para wisatawan domestik. inilah dia Pulau Alor. indah bukan?

Lansekap Kota Kalabahi terlihat dari atas Bukit
Berawal dari rasa penasaran terhadap kebudayaan dan sejarah di Alor membuat rasa keingin tahuan saya semakin mengebu-gebu untuk merasakan langsung kehidupan disana. Akhirnya kami berempat dengan teman-teman memutuskan untuk menjelajah Alor pada bulan Mei 2014. Apabila dari Jakarta, untuk ke Pulau Alor kita harus singgah ke Kupang terlebih dahulu dan melanjutkan penerbangan dengan pesawat TransNusa Kupang – Alor dicapai kurang lebih 50 menit.


Setibanya di bandar udara Mali, kami pun berkenalan dengan driver yang masih muda, tampan dan cekatan namanya Bang Mullez (+6282339147942). Kami diantar ke tempat ia memarkirkan mobilnya dan yang membuat saya kaget, ia membawa mobil Honda Stream untuk mengantar tamu pendatang. Ya pengalaman pertama kami di mulai di dalam mobil Honda Stream ini.
Pemandangan pantai Mali menemani kami sepanjang perjalanan dari bandar udara menuju kota Kalabahi. Kamipun langsung di antar ke Hotel yang sudah saya telepon sebelumnya ketika di Jakarta.
Kami bermalam di Hotel Melati (+6238621073), salah satu hotel terbaik di kota ini. Setelah check in dan beres-beres kami diantar ke Restoran Mama (+623862222845) yang berlokasi di tepi pantai Kadelang. Restoran ini tidak jauh dari pasar Kedelang yang merupakan pasar terbesar di kota ini. Siapa sangka kami bertemu langsung dengan pemilik restoran ini. Beliau adalah anggota dewan dari kota ini, dan yang membuat saya kaget beliau adalah asli Jepara yang sudah lama tinggal di Alor untuk cari penghidupan. Sembari menunggu makanan yang kami pesan di hidangkan, kami menikmati pantai dan bukit-bukit hijau nan indah di belakang restoran ini. “Wow! sungguh mengagumkan!” ujar saya dalam hati.
Pasar Tradisional Kadelang

“Abang!! Abang!! Buat apa bawa kamera tapi tak foto Kami!” Ujar seorang penjual Sayur di Pasar. Suasana pasar mendadak menjadi ramai dengan kedatangan kami. Semua mata menyorot ke kami dan semuanya minta di foto. Rasanya memang tidak afdhol yang kalau kita berkeunjung ke suatu tempat yang baru tapi tidak motret pasarnya.



Penjual Kenari asli Alor
Pasar Kadelang memang sudah saya rencanakan untuk saya kunjungi. Mungkin pasar tidak ada bedanya dengan pasar di kota-kota lain namun masyarakatnya lah yang berbeda. Entahlah teman saya suka atau tidak. Saya suka berbaur dengan orang-orang yang baru saya temui di kota ini.
Pasar ini selain menjual kebutuhan pokok makanan sehari-hari, banyak pula yang menjual kenari, karena memang Kalabahi dikenal kota penghasil buah kenari. Selain kenari yang sudah dikeringkan di pasar ini menjual makanan khas, seperti jagung titi dan kue rambut yang sangat mudah di temukan dipasar ini.

Mama sedang memetik toge
Pantai Batu Putih Alor
Mesin mobil kami berderu kencang kembali mengangkat kami ke atas bukit yang tinggi. Jalan sempit hanya di batasi oleh semak belukar hampir seperti di hutan dan di temani jalan rusak. Tak tahu mau di bawa kemana kami sama bang Mullez.
Kami melewati desa-desa dengan para penduduk yang menyapa kami setiap mobil lewat. “sepertinya jalan ini jarang di lalui mobil” Pikirku. Memang selama perjalanan kami tak bertemu dengan mobil lainnya, namun kalau sepeda motor ada beberapa kali melewati kami dengan membawa rerumputan untuk hewan ternaknya.



Tapi saya percaya bahwa ini adalah tempat yang istimewa. 45 menit berselang dan kami pun sampai. Matahari menyinari sangat terik tepat di atas kepala kami. Dengan mata yang menyipit saya hanya melihat jalan rerumputan dengan semak belukar di kiri dan kanan. Bang Mullez pun memandu kami untuk berjalan ke tempat tujuan. Yang kami temukan hanyalah rumah seperti pondok yang begitu kecil, tua dan sangat usang. “Kesini bang, ambil gambarnya” ujar bang Mullez. Dan benar saja, lansekap pantai batu putih tampak dari atas bukit.
Sebelum matahari tenggelam di barat. Kami diajak bang Mullez untuk turun ke bawah pantai. awalnya saya bepikir turun dengan trekking, ternyata kita kembali ke bawah dengan mobil. “Syukurlah..” ucapku dalam hati. akhirnya kamipun turun kembali ke bawah bukit dan sampailah kami ke rumah penduduk yang tadi kami lewati.



Saya pandangi jendela mobil, kumpulan anak-anak yang sedang bermain di atas gundukan pasir yang dibawa oleh mobil truk. Mereka tampak bahagia dengan permainan yang ia buat sendiri. Memang di kota ini sangat minim fasilitas pusat pembelanjaan lebih lagi pusat hiburan untuk anak-anak, namun mereka bisa menciptkan kebahagiaan itu sendiri. Saya belajar satu hal dari sini, yaitu kebahagiaan itu bukanlah karena kondisi atau keadaan yang membuat kita bahagia, namun kebahagiaan itu adalah state of mind, kitalah yang menciptkan kebahagiaan itu sendiri.
Saya pun mulai merogoh-rogoh kantong jaket dan kantong celana saya untuk mencari permen yang akan saya bagikan kepada mereka. seketika saya pun jadi rebutan para anak-anak itu, tidak jauhlah seperti pepatah “ada gula ada semut”. Pantai Batu Putih tidak jauh dari pemukiman penduduk ini, kami pun berjalan susuri jalan setapak yang ada. Saya keluarkan kamera dan mulai menyusuri pantai Batu Putih.

Wajah Gembira Tanpa Celah
Pakaian Dari Kulit Kayu Suku Kabola
Lagi dan lagi kami berhadapan dengan medan menanjak, sempit, seperti hutan, dan disertai jalan yang rusak. Perjalanan kurang lebih 10 km dari kota Kalabahi pun menjadi terasa begitu lama dengan infrastruktur yang kuran baik. Tujuan kami menutupi hari pertama kami di Alor ini adalah menuju suku Kabola di kecamatan Kopidil. Bernama Kopidil karena memang daerah ini dataran tinggi sebagai penghasil kopi di pulau Alor, namun selain kopi desa ini banyak kita temui kebun kemiri dan kebun kenari. Indonesia memang memiliki sumber daya alam yang berlimpah namun sayang pengelolaan nya kurang maksimal sehingga negara kita masih melakukan impor dari negara lain.
Ditengah perjalanan kami melihat seperti pondok untuk menyaksikan view tanjung Kalabahi dari atas. Saya minta berhenti disini untuk mengambil gambar hanya untuk beberapa frame. Pada awalnya saya ingin mengambil gambar ini ketika matahari tenggelam, namun ternyata waktu kami tidak cukup untuk mengambil sunset karena kami belum sampai ke tujuan kami menuju Desa Kopidil.

Pondok reot dan tak terawat, bambu-bambu yang sudah lapuk membuat kami berhati-hati dalam melangkah. Benar saja, bambu yang saya pijak langsung patah dan saya berpegangan erat kepada kayu sebagi penyangga. Dan sayapun mulai mengabadikan gambar dari pondok tersebut. Selesai kami berfoto-foto kami bergegas kembali ke mobil karena kami khawatir terlambat untuk sampai ke desa Kopidil.
Walupun desa ini sudah menerima perkembangan modern namum beberapa penduduk di desa ini masih menjaga kebudayaan, sejarah dan adat-istiadat peninggalan nenek moyangnya terdahulu. Keunikan yang dimiliki suku Kabola ini adalah mereka masih menggunakan pakaian dari kulit kayu, namun bukan kayu sembarangan. karena kayu yang digunakan ini cukup halus, tidak panas dan tahan lama sampai bertahun-tahun. Kami sampai di rumah Pak Moses (+6281338619737) pada saat hari mulai menjelang magrib

Pak Moses selaku ketua sanggar di desa Kabola ini menyambut kami dengan ramah dan penuh canda. Kami pun dibuatkan kopi khas daerah Kopidil sebagai penghangat di udara yang dingin khas dataran tinggi. Setelah lama berbincang-bincang dengan Pak Moses, kami dizinkan untuk mengenakan pakaian adat kopidil yang biasa digunakan untuk menyambut tamu dan upacara adat khas suku Kabola.




Hidangan Penutup Hari di Pantai Reklamasi
Pulang dari Kopidil langit sudah gelap. tiada penerangan sepanjang jalan, kami pun merencanakan untuk makan malam di pantai Reklamasi. Pantai ini memang terkenal jajanan malam harinya dengan berbagai menu yang di tawarkan. dan kami pun memesan ikan bakar dan bersantai sejenak di pantai ini. Dan tahu apakah yang kami rindukan? ya… kami rindu sekali dengan kasur, badan ini sudah sangat letih untuk berjalan lagi. Kami persipakan stamina untuk perjalanan esok hari.

Pagi Yang Menggila
Adzan Shubuh terdengar sayup-sayup di telinga. Sayapun bergegas bangun dan mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat shubuh. Bang Mullez sudah menjemput kami di depan hotel pada pukul 05.00 WITA. Kami bermaksud mengambil matahari terbit di kota ini, namun kamu belum tahu spot foto dimana yang bagus untuk kami ambil. Pagi buta kami berkeliling dan tak satupun tempat yang cocok bisa kami dapatkan. Kami berhenti di pertengahan jalan di atas bukit dekat Bandara Mali. Cahaya bulan menemani kebingungan kami berempat di sini. Langit gelap kini berpendar menjadi ungu dan jingga tanda fajar mulai tiba. Bang Mullez menagajak kami masuk ke dalam mobil, entah mau di bawa kemana kami dan saya pun hanya bisa pasrah.

Ternyata kami di bawa ke dalam Bandara Mali. Bang Mullez nekat mengantarkan kami ke dalam bandara. Padahal ini tidak boleh dilakukan tanpa memiliki kepentingan. Pagar pun di buka oleh bang Mullez untuk memasuki Komplek TNI AU, dan Whoooohoooo kami ngebut di landasan pacu bandara Mali seperti pesawat mau Take Off!!. Bang Mullez sungguh nekat dan gila menurut saya, ini pengalaman saya untuk kali pertamanya mobil masuk landasan pacu pesawat. Dan sesampainya di ujung bandara kami dapat melihat pantai Mali Ujung dan mulai membuka tripod kami dan “Pret” kami semua sibuk pada masing-masing kamera.
Mentari pagi menghangatkan tubuh kami dari dinginnya pagi. Setelah dari pantai Mali ujung kami bergegas masuk ke dalam mobil lagi dan keluar bandara sebelum petugas menghampiri kami dan menindak kami yang masuk bandar udara tanpa izin. Perut yang belum terisi pun tak terasa karena antusias kami untuk mengunjungi desa yang masih menjaga kebudayaannya yaitu Desa Takpala. Desa Takpala ini ditinggali oleh suku asli Alor yaitu suku Abui dimana mereka masih tinggal di rumah adatnya yang disebut rumah Lopo.
Desa Takpala : Kampung Adat Asli Alor


“Welcome to Takpala” Tulisan ini terlihat tidak jauh dari lokasi yang kami tuju. Kami pun memarkirkan mobil kami di areal yang cukup luas untuk 4-5 kendaraan. Panorama laut lepas nan indah kami saksikan di tempat ini. Anak tangga dari susunan bebatuan yang di tutupi oleh rindangnya pepohonan menghantarkan kami ke pemukiman yang masih menjaga kekentalan adatnya. Kedatangan kami disambut dengan senyuman hangat oleh seorang gadis kecil yang sedang bermain di halaman depan.
Pak Martinus sebagai petugas penerima tamu mempersilakan kami naik ke atas rumah Lopo. Dan kami dipertemukan dengan kepala suku desa Takpala yang memiliki nama yang serupa dengan penerima tamu yaitu Pak Martinus juga. Beliau bercerita mengenai kebudayaan suku Abui dan potensi pariwisata dari desa ini. Ternyata tamu dari negara Eropa dan Australia lebih banyak berkunjung daripada wisatawan dari negeri sendiri. selesai bincang-bincang, Pak Martinus mengumpulkan penduduk desa Takpala untuk mempertontonkan tarian khas mereka.
Bersatu dengan Lego-Lego


Cring! Cring! Cring!! Gemericing gelang kaki mengikuti Nyanyian suara lantang dan parau kepala suku. berpelukan dan bersahutan mengelilingi benda berharga suku Abui yaitu Moko. Moko merupakan benda terbuat dari perunggu dan berbenrtuk seperti cawan yang memiliki ornamen-ornamen khusus yang memiliki nilai hingga puluhan juta.
Biasanya suku Abui desa Takpala menggunakan Moko sebagai mas kawin karena dapat mengikat pasangan dan keluarga kedu pihak. Tarian yang mereka lakukan merupakan tarian persatuan yang disebut tari lego-lego. Tari lego-lego biasanya dilakukan apabila sedang ada upacara adat, namun kini lebih sering dilakukan dalam menyambut tamu atau acara pernikahan.

Sepulangnya kami dari Desa Takpala, perut saya sudah tak bisa kompromi lagi. lapar dan haus begitu terasa di tengah teriknya matahari. Kami memutuskan untuk berhenti di rumah makan padang di kota Kalabahi. Sejenak kami bersantai melelahkan tubuh kami yang masih terasa pegal.
Kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan melegakan otak dengan kopi yang sudah di sediakan oleh hotel sebagai paket breakfast selama menginap. Hari itu pun kamu check out dan pindah penginapan. Penginapan yang jauh dari keramaian, penginapan tempat menikmati pesona bawah laut yaitu di Pulau Kepa. Namun sebelum kami ke pulau Kepa. kami menyempatkan diri untuk melihat Al-Qur’an tertua se asia.

Foto keluarga sebelum berpisah
Al-Qur'an Tua Yang Masih Terplihara
Mungkin kita tak bisa membayangkan bagaimana Al-Qur’an terbuat dari kulit kayu, berisikan 30 Juz (114 surat) ini dibuat dengan tulisan tangan. Pada masa itu Iang Gogo membawa Al-Qur’an ini ke Alor besar bersama ke empat saudaranya untuk penyebaran agama Islam. Sebab itulah di Alor besar banyak kita temukan masjid karena mayoritas penduduk di Alor besar adalah pemeluk agama Islam. Pada masa kesultanan Baabulah lima bersaudara berlayar dari Ternate (Maluku Utara) menggunakan perahu layar yang menurut riwayat bernama “Tuma’ninah” yang memiliki arti berhenti sebentar/singgah.



Mungkin inilah yang menyebabkan disekitar pulau Kepa terdapat nama pulau Ternate seperti di Maluku Utara. Al-Qur’an ini masih sangat jelas untuk dibaca, masih sangat terawat walaupun pada tahun 1982 pernah terjadi kebakaran hebat yang melanda rumah pondok tempat Al-Qur’an tua ini disimpan yang menghanguskan seluruh badan rumagh beserta isi-isinya termasuk harta dan peninggalan sejarah Iang Gogo namun Al-Qur’an ini tidak terbakar dan tetap utuh sampai saat ini.



Saya sebagai muslim sangat takjub mendengar cerita oleh Bapak yang saya lupa namanya. beliau banyak cerita mengenai keajaiban-keajaiban yang terjadi sambil memberikan suguhan kue rambut dan teh manis kepada kami. Sebelum kami beranjak pergi tak lupa kamu berfoto bersama dan memberikan donasi seikhlasnya.


Tenun Khas Alor
Berikutnya kami berkunjung ke kerajinan tenun Alor, awalnya kami ingin berkunjung ke ahli tenun Mama Sariat Libana, namun karena kami hanya memiliki waktu yang singkat kami akhirnya berkunjung ke rumah Mama Sumiratono adik dari Sariat Libana (+6281236462168).
Rumahnya tampak sepi seperti tidak ada penghuni. hanya ada sekumpulan anal-anak yang sedang bermain yang kami lihat di halaman sekitar rumahnya. Tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiri kami. “Permisi pak, apa disini tempat kerajinan tenun Alor?” tanya saya. Seketika pintu rumah di buka dan orang yang kami cari kini sudah berada di hadapan kami semua.
“Kami ingin tahu tenun khas Alor Mama, apa mama punya tenunnya?”.



Dengan semangat Mama Sumiratono ini mengambil tenun buatan tangannya yang berwarna kuning dan bergambar naga. Beliau bercerita begitu semangat membuat kami ingin melihat bagimana cara pembuatan tenun ini. Sambil menenun mama Sumiratono bercerita tahap-tahap proses pembuatan tenun Alor.
La P’Tite Kepa – Surga Bagi Para Divers

Disinilah tempat kami menginap setelah kurang lebih 5-10 menit menyeberang dari Alor menuju Pulau Kepa. Penyeberangan kami di temani lumba-lumba yang berloncatan mengikuti arus air kemana kami berlayar. Tak terasa kami sampai di pulau yang tampak gersang. kami berjalan menuju jalan setap yang menghantarkan kami ke penginapan pemilik orang kebangsaan Perancis yang bernama Mr.Cedric. Ada dua jenis Bungalow di pulau ini yang pertama bungalow yang berbentuk seperti Rumah Lopo dengan kamar mandi terpisah dan bungalow yang seperti rumah dengan kamar mandi di dalam.



Yang perlu di perhatikan di penginapan ini adalah air. Kenapa air? karena di pulau ini tak ada sumber air bersih/minum. Jadi kita harus menggunakan air sebujak mungkin agar tidak kehabisan. Di kama mandi terdapat dua ember yang berisi air tawar yang digunakan untuk mandi dan air asin/laut yang digunakan untuk membasuh setelah buang air. Dan kita harus membawa air minum secukupnya atau mungkin sebanyaknya. Tarif untuk menginap di bungalow ini di hitung/ orang untuk 1 malam dengan fasilitas makan 3 kali (sarapan, makan siang dan makan malam) yauitu Rp 175.000 – 300.000. Untuk informasi lebih lengkap Sahabat bisa hubungi langsung Anne Cedric (+6281339102403). Kepa merupakan surga bagi pecinta bawah laut baik itu yang mau snorkling dan diving.



Sehari di Kepa bukanlah waktu yang cukup untuk kami. Kami tak sempat diving dan snorkling di sekitaran pulau ini yang katanya salah satu tempat diving terbaik dunia menurut media asing. Mungkin inikah yang menjadi alasan saya untuk kembali lagi ke pulau Alor? Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 19.00 saatnya makan bersama satu meja makan dengan seluruh tamu penginapan yang semuanya tamu asing dari Eropa. Wow Alor memang lebih di kenal oleh negara Eropa. sehingga hampir seluruh yang datang ke pulau ini adalah bule. Setelah makan malam kami menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan Mrs.Anne Cedric, Ia adalah istri dari pemilik penginapan ini. tak perlu khawatir dengan bahasa yang digunakan, Ia sudah sangat fasih dalam berbahasa Indonesia bahkan sekalipun bahasa Alor. Setelah lama berbincang kami masuk ke bungalow untuk bersiap merekam beberapa frame matahari terbit.


Hari Terakhir Kami Di Alor
Hari ini adalah hari terakhir kami di Alor. dengan penerbangan pesawat pukul 15.00. Pukul 09.30 kami menyeberang kembali ke Alor dan kembali le pusat kota Kalabahi. Kamipun singgah sebentar di pantai Mali hanya untuk menghabiskan waktu sambil menunggu penerbangan kami.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bang Mullez yang tak lelah mengantar perjalanan yang saya buat. dan kepada tim Jalan-Jalan Manis Klub (Trip Molor Di Alor : Saya (Fakhri), Luthfi, Dicky dan Wildan) Tanpa kalian mungkin perjalanan ini tidak akan meriah dan bahkan mungkin tidak akan terjadi. semoga lain waktu kita bisa berkumpul kembali di tempat yang berbeda, yang pastinya akan lebih menantang. Kita tak akan mengenal suatu kehidupan di luar sana kalau kita selalu berada di tempat yang sama.Akankah Alor akan terus terjaga keindahannya? Akankah budaya yang ada akan tenggelam oleh arus moderenisasi? Suatu saat saya akan kembali ke Alor. (2014)