Haruskah Kita Menghindari Spot Sejuta Umat?
Haruskah Kita Menghindari Spot Sejuta Umat?
Fotografi sebagai bentuk seni dalam menciptakan sesuatu yang unik dan original. Seorang fotografer akan melakukan sebuah perjalanan mengelilingi daerah bahkan hingga dunia, berjalan berkilo-kilo demi mendapatkan sesuatu yang baru.

Terkadang tak peduli dengan medan dan resiko yang akan ia dapati nanti. Dan Kemudian ia mem-posting hasil tangkapan gambar luar biasa mereka ke internet dan pada akhirnya satu persatu para fotografer mencari lokasi ini dengan maksud ingin memiliki frame seperti lokasi yang sama dengan tangkapan yang lebih baik dan artistic. Pada akhirnya terjadilah ribuan gambar pada satu lokasi atau biasa kita sebut spot sejuta umat. Namun dari ribuan gambar yang tercipta, beberapa dari mereka ada yang baik dan beberapa ada juga yang buruk. Tetapi pada titik manakah lokasi yang sudah tidak layak lagi untuk di foto?

Ketika kita berhadapan dengan lokasi di sekitar kota setempat, Saya yakin ada setidaknya beberapa daerah menonjol yang menjadi popular bagi kalangan fotografer untuk di ambil gambarnya. Saya melihat bahwa semua fotografer memiliki mata artistik yang berbeda dan Anda dapat menemui 10 fotografer yang memotret subjek yang sama dan mendapatkan 10 gambar yang berbeda. Tapi selama perjalanan waktu, Anda akhirnya memiliki seribu fotografer memotret di lokasi yang sama.

Seorang fotografer dan desainer Phillip Schmitt pernah memperkenalkan sebuah kamera prototype yang bertujuan untuk membatasi jumlah gambar yang dibolehkan untuk di foto pada setiap lokasi. Menarik bukan? Cara kerjanya adalah, kamera ini akan mencari berapa banyak gambar yang telah di ambil, yang sudah disesuaikan dengan lokasi geografis yang Anda tentukan. Jika angka yang keluar terlalu tinggi, maka tombol shutter akan dikunci dan Anda tidak dapat mengambil gambar sama sekali di lokasi tersebut.

Saya sempat terpikir ini adalah ide yang konyol dan juga tidak bisa menjadi apa yang di butuhkan oleh fotografer. Tapi Saya ingin mengajukan suatu pernyataan yang valid dan coba Anda jawab. Apakah dunia masih membutuhkan gambar lain dari Menara Eiffel? Mungkin tidak usah jauh-jauh, Bila Anda berkunjung ke Jawa Timur untuk mengambil gambar sunrise Penanjakan di Bromo, apakah Anda bisa menangkap gambar yang belum pernah ada sebelumnya? Lagi? Mainlah ke kawasan Semeru, Anda lakukan trekking selama 2 – 3 malam ke gunung Semeru, menyaksikan sunrise dari balik bukit danau Ranu Kumbolo? Atau bahkan melihat letusan periodic dari kawah semeru?

Sekarang apa yang Anda pikirkan? Dapatkah suatu lokasi foto dikatakan over photographed? Apakah kamu menyukai gagasan membatasi berapa banyak foto dapat diambil di lokasi tertentu? Apa sajakah hal-hal lain yang menurut Anda suatu lokasi dikatakan over photographed?