Serunya Memotret Disney Live! Three Classic Fairy Tales
Serunya Memotret Disney Live! Three Classic Fairy Tales
Sedikit deg-degan bagi Saya untuk kali pertamanya menjadi photographer di acara Disney Live! Three Classic Fairy Tales yang diadakan Jakarta beberapa waktu lalu. Acara yang di produseri oleh Feld Entertaiment yang sudah mendapatkan kesepakatan dengan Walt disney company ini, diadakan di lapangan Tennis Indoor Senayan.

Pertunjukan ini sudah diadakan sejak lama di seluruh dunia yang meliputi Amerika Serikat, Timur tengah, Asia, Australia dan Eropa. Pementasan ini menghadirkan pertunjukan kabaret cerita asli dari kisah klasik Disney yang didukung dengan koreografi, kostum yang serupa dengan karakter pada filmnya, dan tata cahaya yang luar biasa.
Mungkin kita sudah mengetahui tokoh-tokoh kartun utama pada perusahaan Walt Disney seperti Mickey, Minnie, Goofy dan Donald Duck namun, tokoh tersebut hanya sebagai pengantar tiga cerita Disney Classic Princess seperti Snow White and Seven Dwarfs, Cinderlella, dan terakhir Beauty And The Beast. Untuk menyaksikan acara yang spektakuler ini Anda harus merogoh kocek di mulai 250 ribu – 1,1 juta untuk kelas diamond nya. Disini saya akan coba berbagi pengalaman dan beberapa tips ketika saya memotrek di sebuah pentas teatrikal Disney Live!
Disini saya sedikit bercerita beberapa pengalaman saya ketika memotret acara Disney Live di Tennis Indoor Senayan.

Memahami Acara
Sebaiknya seorang fotografer sudah menguasai lokasi acara, run down acara dan menggali informasi konsep acara akan berjalan seperti apa. Setiap acara memiliki karakteristik hal-hal mengenai posisi, lightning, ruang-ruang dan alat peraga yang biasanya digunakan ketika acara berlangsung. Informasi seperti itu sangat mudah dilihat di Youtube seperti yang Saya lakukan saat di tunjuk menjadi photografer di acara Disney Live!. Pastinya dengan adanya kesiapan, akan menambah kepercayaan diri meningkat.

Alat yang tepat
Yang pertama kali saya siapkan dalam tas kamera saya adalah lensa dengan jangkauan yang panjang dan sebuah lensa wide. Untuk lensa tele disini saya menggunakan lensa medium range AF-S 85mm f/1.4 dan tele AF-S 105mm f/2.8 agar mendapatkan cahaya yang cukup dan ketajaman yang baik, serta fokus yang mampu bekerja dengan baik pula. Untuk lensa lebar, saya gunakan lensa AF-S 16-35 f/4 yang digunakan untuk mengambil suasana keseluruhan panggung. Body Nikon D600 dan D800 menjadi alat perang saya saat itu. Body kamera ini mampu bekerja sangat baik pada saat menggunakan ISO tinggi dan Body D600 mampu menjepret action yang begitu cepat dengan kecepatan yang lebih baik di banding dengan D800.

Karena tidak diperkenankan penggunaan flash pada acara Disney Live ini, jadi saya tidak menggunakan flash. Lagipula dengan kita menggunakan flash. Kita akan kehilangan detail dari lampu panggung, dan seolah foto terlihat lebih monoton dan tak ber”energi”.

Pengaturan exsposure
Karena ruangan cukup gelap dan penerangan hanya di bantu oleh cahaya panggung, tak usah khawatir untuk menggunakan ISO tinggi, mulai dari ISO 800, 1000 atau 1600. Menggunakan ISO tinggi agar mampu memotret dengan rana yang cukup sehingga gambar tidak goyang saat pengambilan gambar. ISO tinggi memang akan menghasilkan foto yang kehilangan detail, grainy dan banyaknya noise, namun itu masih bisa di atasi pada saat post processing. Aperture yang lebar mampu memberikan cahaya masuk lebih banyak sehingga foto akan terlihat terang. Rata-rata pada saat itu saya menggunakan aperture kisaran f/2.8 – f/3.2 namun bila ingin ketajaman yang cukup untuk mengambil suasana panggung saya menggunakan f/4.

Untuk acara ini saya tidak banyak menggunakan teknik panning seperti Implying Motion, yaitu capture moment untuk menghasilkan flowing effect yang bersifat memberikan efek gerakan. Teknik pengambilan foto ini biasanya menggunakan shutter speed yang sedikit lebih rendah sekitar 1/25-1/50, mungkin bila menggunakan lensa yang memiliki fitur VR (vibrate reduction) akan menghasilkan foto yang lebih baik lagi.
Cahaya di panggung begitu dinamis dan cepat berubah-ubah sebaiknya Anda menggunakan mode Aperture Priority bila Manual Mode membuat moment penting tertinggal beberapa detik. Pastikan memainkan EV agar mendapatkan exposure yang tepat.

E-tiket
Penting atau tidak penting tapi ini penting untuk diketahui, khususnya bagi saya pribadi yang belum pernah menjadi photografer acara panggung seperti acara Disney Live!. Setiap acara pasti ada etika yang perlu kita ketahui. Walaupun saya mengenakan tag resmi sebagai photografer acara Disney Live!, tetapi bukan berarti bisa seenaknya. Yang terpenting jangan menjadi “aktor/aktris” pada acara tersebut. cara nya seperti apa? Saya coba bagikan sedikit hal-hal dasar yang saya ketahui.
Gelap lebih baik
Mengenakan pakaian yang berwarna terang akan memancing mata audiens tertuju pada Anda, Lebih lagi bila Anda berjalan dari sisi kanan ke kiri untuk mencari angle ingin didaptkan sehingga bisa-bisa Anda menjadi pemeran utama di saat acara tersebut. Lebih baik Mengenakan pakaian gelap atau hitam jika ada, karena warna ini akan menyatu dalam gelapnya lampu bangku audiens sehingga gerakan photographer tidak begitu mencolok. Perhatikan juga lokasi Anda dalam mengambil foto agar lebih berhati-hati untuk tidak menghalangi audiens di belakang. Saya sempat sekali kena teguran oleh salah satu pengunjung karena kepala saya mengahalangi pandangannya. Semoga itu menjadi pengalaman pertama dan terakhir saya dalam melakukan kesalahan.

Sepatu Ninja
Maksud dari sepatu ninja adalah, sepatu yang tanpa mengeluarkan suara yang berisik, sehingga menarik mata-mata para audiens untuk mencari sumber suara “tok tok tok”langkah kaki Anda. Namun bila permukaan lantai adalah karpet yang tebal, hal ini tidak jadi masalah bila kita mengenakan sepatu dengan sol sepatu yang keras.

Cahaya Fokus
Cahaya fokus terkadang menggangu dan membuat aktor/aktris akan “sadar kamera” lebih baik cahaya fokus di matikan pada saat acara berlangsung di ruangan yang gelap.

Quite Shutter
Suara shutter merupakan suara yang begitu nikmat di telinga photographer, tetapi tidak bagi orang yang duduk di samping, depan, belakang Anda ketika acara sedang berlangsung. Suara buka tutup shutter Anda lama-lama menjadi sebuah gerutuuan penonton. Walaupun suara musik dan efek sound system akan menutupi suara shutter Anda ke depan panggung, namun bagi mereka yang duduk di dekat kita tetap akan merasa terganggu dengan suara jepretan shutter continuesnya. Bila di kamera Nikon tertentu memiliki mode “Q” untuk meminimalisir suara hentakan shutter dan suara mengunci pada fokus.

Semoga beberapa tips dari pengalaman saya ini bermanfaat untuk Anda. Dan saya menunggu pengalaman untuk bekerjasama dengan Anda…hehehe…
Selamat mencoba dan salam jepret!!