Skip to main content
31 December 2023

4 Hari Motret di Pulau Bintan, Tanjung Pinang! Apa Yang Saya Dapatkan?

4 Hari Motret di Pulau Bintan, Tanjung Pinang! Apa Yang Saya Dapatkan?

Saya berpikir 4 hari sudah cukup hanya untuk mengelilingi salah satu pulau terbesar di antara Provinsi Kepulauan Riau ini (Kepri). Namun bagi yang menginginkan mendapatkan moment terbaik untuk fotografi belum tentu bisa Anda dapatkan dengan 4 hari.

Pantai Trikora Bintan

Perjalanan singkat ini saya lakukan pada bulan Oktober 2016 tatkala musim penghujan dan saya sadar risiko apa yang saya ambil. Awal kedatangan di bandar udara Raja Haji Fisabillah, Tanjung Pinang di sambut dengan hujan ringan yang sudah membasahi permukaan bumi.

Pulau Bintan memang satu wilayah dengan Tanjung Pinang namun berbeda teritorial , Tanjung Pinang merupakan ibukota provinsi dan pulau Bintan adalah kabupaten. Tidak banyak memakan waktu untuk menuju pulau Bintan dari Tanjung Pinang. Jarak sekitar ±47km dapat di tempuh 1 jam-an dengan jalan aspal yang cukup baik dan luas.

Menurut saya yang menjadi kendala untuk berkunjung ke pulau ini adalah masalah transportasi umum yang masih sangat minim. Jadi bagi Anda yang ingin berkeliling pulau Bintan, Saya sarankan sebaiknya rental kendaraan sebelum melakukan keberangkatan. Karena yang saya alami saat itu adalah, saya tidak ada kendaraan sama sekali untuk berkeliling Tanjung Pinang –  Pulau Bintan. Pada akhirnya saya dapat menyewa kendaraan berupa mobil Datsun yang masih berumur 2 bulan dengan harga Rp 500.000/hari di luar BBM dan biaya overtime driver. Bila Anda butuh kontak nya bisa hubungi Pak Yose pada nomor : +628117788000.

Pulau Penyengat

Masjid Pulau Penyengat

Apa yang menjadi daya tarik kampung ini sehingga kamu harus melihat dan datang sendiri ke kampung ini walau tidak ada akses infrasturktur kendaraan menuju kampung ini (saat itu 2016). Kalau buat saya pribadi kampung ini menyajikan paket kumplit. Apa saja itu? yuk lanjut

Becak Pulau Penyengat
Transportasi di Pulau Penyengat

Disini saya tidak bercerita detail perjalanan yang saya lakukan. Saya hanya sekedar memberikan beberapa destinasi dan lokasi saya bermalam saat di pulau bintan. yang menjadi tujuan pertama saya di Tanjung Pinang adalah menyeberangi lautan untuk berkunjung ke Pulau Penyengat, dengan biaya yang cukup murah yaitu Rp. 7000/orang (sekali jalan) atau 200.000/perahu Pong-Pong (PP). Cukup mengahabiskan waktu mungkin sekitar kurang dari 10 menit untuk menyeberangi menuju Pulau Penyengat. 

Plataran Masjid Pulau Penyengat
Makam di Pulau Penyengat

Di pulau ini Anda bisa berkeliling  pulau menggunakan becak motor yang sudah tersedia di depan pelabuhan, Dengan membayar Rp 30.000/jam, Anda sudah bisa di ajak berkeliling di pulau yang memiliki cerita sejarah Kerjaan Melayu Kuno, Anda akan menemukan arsitektur sejarah dan budaya melayu di mulai dari Makam Raja Hamidah hingga Raja Haji Fisabilillah. Selain makam Anda juga bisa menemukan Kantor, dan peninggalan Istana Raja Melayu Kuno beserta benteng bukit kursi dengan meriam dari 4 titik sudut.

Gudang mesiu Pulau Penyengat
Rumah Putri di Pulau Penyengat

Namun yang menurut saya menarik adalah Masjidnya. Masjid Sultan Riau yang sudah terlihat dari kejauhan ketika perjalanan di perahu pong-pong. Masjid yang dibangun pada tahun 1761 – 1812 konon katanya mengguakan putih telur untuk menggantikan semen sebagai perekatnya. Hingga sampai sekarang, masjid ini masih berdiri kokoh dan di pakai oleh penduduk setempat untuk beribadah.

Meriam Pulau penyengat

Danau Biru Kijang Bintan

Danau ini merupakan areal penambangan pasir yang beberapa lokasi masih aktif di gunakan. Saya menemukan danau biru ini dengan bertanya-tanya kepada penduduk setempat. Danau ini dapat di temukan di daerah kijang, kelurahan kawal pada saat saya sebelum menuju pantai Trikora. Bukan hanya satu danau yang anda temukan di lokasi ini, namun banyak sekali danau berwarna biru cerah dan biru tua yang tampak begitu jernih. Perbedaan warna air di bagi menjadi dua, yang biru muda adalah air yang di gunakan untuk mencuci pasir dan air yang berwarna biru gelap merupakan air limbah pasir. Bila berkunjung kesini, hati-hati melangkah karena ada permukaan pasir yang sangat lembut yang bisa menyebabkan Anda jatuh masuk ke dalam danau yang cukup dalam.

Danau biru Kijang

Pantai Trikora Bintan

Berkendaraan sejauh 45 Km ke-arah timur akan mengantarkan Anda ke Pantai Trikora yang memiliki garis pantai sepanjang ±25 Km sehingga pantai ini di bagi menjadi 4 bagian yaitu Pantai Trikora I, II, III dan IV. Bagi Anda yang ingin menyaksikan sunrise di Pulau Bintan di pantai inilah lokasi yang cocok untuk mengabadikannya. Cukup banyak pilihan penginapan di sepanjang pantai trikora ini di mulai dari harga 250.000 hingga 1 juta-an. Saat itu yang menjadi pilihan saya yaitu Bintan Laguna Restaurant and Resort dengan tariff Rp 250.000/malam booking via Agoda.com. Sebaiknya Anda melakukan  survey terlebih dahulu lokasi yang ingin di jadikan spot sunrise. Karena menurut saya, Bagi Anda yang baru pertama kali berkunjung ke pulau Bintan, akan kesulitan mencari lokasi yang pas untuk sunrise. Saran saya Anda bisa tancapkan tripod di Pantai Trikora III untuk mendapatkan granit-granit besar atau mungkin sedikit kearah utara, Anda akan mendapatkan seperti dermaga di daerah Malang Rapat. 

Pantai Malang Rapat
Pantai Trikora

Gumuk Pasir Busung Bintan

Area bekas penambangan pasir di Kampung Busung kini sudah ramai di kunjungi oleh para wisatawan. Gumuk pasir yang berada di Busung ini bukanlah terjadi secara alami seperti pada umumnya gurun pasir tercipta, namun areal ini merupakan bekas penambangan pasir yang sudah di hentikan dikarenakan larangan oleh pemerintah daerah. Walaupun begitu lokasi ini bisa membuat foto Anda menjadi fotogenic saat melakukan selfie.  

Gumuk Pasir Busung
Gurun Pasir Bintan
Foto Gurun Pasir Bintan

Pantai Sakera

Bagi saya yang baru pertama kali berkunjung ke pulau Bintan tanpa guide orang lokal, akan kesulitan mencari yang namanya pantai Sakera, karena hamper sepanjang jalan yang saya temui di pesisir barat Pulau Bintan ini adalah pantai semua. Saya memperhatikan setiap garis pantai yang dilewati sambil berkendara hingga  menemukan lokasi yang menurut saya cocok untuk mendapatkan sunset dengan foreground yang baik.

Pantai Sakera Bintan

Saat itu saya memarkirkan kendaraan di Pantai Kampung Bugis yang lokasinya tidak jauh dari pantai Sakera, disinilah saya mengabadikan terbenamnya matahari. Setelah sunset selesai saya menuju kota Tanjung Uban untuk bermalam di Hotel Pesona dengan kelas Family Room ( 3 orang) seharga 350.000/malam.

Sunset di Bintan

Vihara Sangharama Sebong Pereh

Vihara Sangharama Sebong Pereh

Yang menarik dari vihara ini adalah patung raksasa jendral Guan Shen Di Jun yang merupakan patung setinggi  ±16 meter yang menjadi patung tertinggi di Asia Tenggara. Dan di depan Vihara ini terdapat patung penyu yang sangat besar yang berhadapan langsung dengan pantai. Vihara ini dapat di tempuh ±20 menit dari Tanjung Uban dengan berkendara.

Guan Shen Di Jun Sebong Pereh
Klenteng Sebong PEreh

Air terjun Gunung Bintan

Perjalanan Air terjun bintan

Berjalan menanjak sejauh 200m di atas permukaan paving block, Anda akan menemukan air terjun yang terdapat di kaki gunung Bintan. Air terjun setinggi 7m ini tidak memiliki debit air yang banyak. Sekitar ±35 km dari Tanjung Uban yang dapat di tempuh dengan waktu ±1 jam an. Tidak sulit menemukan lokasi ini, karena sudah dapat gapura besar yang berwarna kuning sebagai awal pendakian bagi yang ingin melakukan kegiatan pendakian di gunung yang memiliki ketinggian sekitar 400m saja yang sekaligus menjadikan gunjung ini permukaan tertinggi di pulau Bintan.

air terjun Bintan

Bertemu teman social media

Media social merupakan alat yang sangat ampuh untuk mendapatkan informasi. Melalui media sosial saya berkenalan dengan Bang Robbi Hafzan ( domisili Tg.Uban)  yang telah banyak memberi masukan setiap destinasi yang akan saya kunjungi selama di Pulau Bintan. Mungkin cukup lama saya berkenalan dengan foto-fotonya Bang Robbi ini melalui IG  (https://www.instagram.com/robbi_hafzan/) dan FB nya, namun belum pernah bertatap muka secara langsung.  Mungkin karena hasil foto-foto indahnya Bang Robbi ini lah yang menyebabkan keinginan saya mencicipi sedikit keindahan Pulau Bintan. Pada akhirnya media social mampu mempertemukan kami dengan gelas-gelas kopi dan beberapa piring sate padang di Tanjung Uban.

Apa yang tidak saya dapatkan?

Mungkin masih banyak hal yang belum saya dapat di Pulau Bintan ini terkendala cuaca hujan yang begitu lebatnya sepanjang hari.

Saya tidak sempat berfoto di kawasan Lagoi di karenakan keterbatasan akses untuk berkunjung  selain itu juga hujan yang terus turun saat saya berkunjung ke Lagoi, Saya juga belum mencicipi makanan khas yang disebut gong-gong ( sejenis siput). Mungkin suatu saat Saya akan kembali untuk mencoba yang namanya gong-gong. Karena kalau belum mencoba gong-gong, berarti Anda belum ke Pulau Bintan.