Ke Bali kali ini saya ingin merasakan pengalaman mendaki gunung Batur. Perjalanan yang bikin saya ngantuk telah terobati. Efek kopi luwak Bali membuat mata dan otak kembali segar. Setelah puas ngopi DISINI Kami melanjutkan perjalanan ke arah atas gunung Batur Kintamani. Tak lama perjalanan, tibalah kami di Kintamani dimana hamparan danau dan gunung Batur terlihat begitu indahnya. Walaupun matahari tertutup oleh awan namun pancaran sinar kekuningannya mampu menembusnya sehingga membuat suasana terasa hangat.

Suasana Sore di Kintamani
Karena saya belum tahu letak persis penginapan yang akan saya tinggali selama dua malam di kawasan Batur Kintamani Saya buru-buru naik kembali ke mobil agar tidak kemalaman mencari penginapan nanti. Kami pun turun ke bawah menuysuri pinggiran danau Batur. Begitu banyak truk pengangkat pasir vulkanik yang lalu lalang dari bawah ke atas ataupun sebaliknya, sehingga membuat kita harus lebih hati-hati dalam berkendara apabila sedang menuju ke bawah danau Batur. Saya berencana menginap di Segara Hotel & Restaurant karena hotel ini dekat dengan danau dan pastinya masih terjangkau untuk harga yang saya budgetin. nah berikut penampakan Hotel Segara.


Entah kenapa saya diberikan harga diskon khusus oleh pemilik hotel yang ramah ini. hehehe, jadi saya tak bisa kasi tahu harganya ya. Untuk melakukan booking hotel ini bisa dilakukan di Agoda. Fasilitas breakfast, wifi dan air hangat merupakan nilai plus untuk hotel ini. Dengan view gunung Batur yang terlihat dari restoran hotel ini menambah suasana menjadi lebih indah. Saya menginap di hotel ini dua malam, ya cukup horor lah, karena ada dua ranjang dan saya hanya seorang diri karena Eka saya suruh pulang ke rumahnya agar bisa beristirahat, selain itu lampu kamar redup-redup gitu. Mungkin ini alasan saya dikasi harga diskon 🥲. Selama saya disini, hanya saya seorang diri yang menjadi tamu lokal di hotel Segara, sehingga saya tak punya teman, selain secangkir kopi panas untuk yang bisa diajak ngobrol ☕.
Motret Sunset Gunung Batur dari Danau

Danau Gunung Batur, Bali
Daripada mati gaya di kamar, Saya memutusukan untuk berjalan keluar memasuki jalan setapak menuju tepi danau Batur di kala menjelang matahari tenggelam. Suara katak dan suara burung saling bersahutan menemani saya sore itu. Langit mulai semakin gelap. Rasa takut pun menghantui saya, ya maklumlah, main di danau sendirian tanpa ada orang di sekitar saya selain anjing yang tidur di dekat kaki. Beberapa kali saya ambil gambar dengan view menghadap gunung Batur dengan sebuah perahu dan danau Batur sebagi foregroundnya. Selesai motret, Saya bergegas kembali ke hotel sebelum benar-benar langit sudah gelap.

Suasana Senja di Gunung Batur
Badan ini sudah minta istirahat namun mata masih aja melek dipukul 22.00WITA. Bukan karena kopi saya jadi tak bisa tidur, namun karena batuk berdahak melanda dan sedikit sesak di pernapasan saya ini yang menjadi penyebabnya. Alarm smartphone android saya sudah berbunyi pukul 04.00 tanda saya sudah harus bersiap untuk melakukan trekking gunung Batur. Badan yang lagi lemes-lemes ini jadi bikin saya overthinking kalau melakukan pendakaian saat itu.
“Duh kuat ga ya nanti naik ke puncak? kalau tau-tau drop malah ngerepotin orang gmana ya?!”
Pertanyaan dalam diri saya menghantui saya malam itu, tapi saya segera minum vitamin dan oles balsem paporit saya ke tubuh agar terasa hangat. “Pak Fakhri saya sudah di depan hotel siap antar bapak”. Pukul 04.30 saya dapat pesan singkat dari Pak Made yang menjadi guide saya untuk trekking ke gunung Batur. . Ia mengantarkan saya menggunakan motornya. Dalam gelap kami menyusuri perjalanan ke basecamp pendakian gunung batur. Dengan ketinggiannya 1.717mdpl Gunung batur ini termasuk gunung berapi yang mudah untuk di daki dengan rata-rata perjalanan 2-3 jam untuk sampai ke atas puncak gunung Batur.
Pendakian dimulai

Menyaksikan matahari terbit dari gunung Batur merupakan aktifitas favorit wisatawan asing. sehingga rata-rata yang saya temui memang tamu dari Eropa. Australia, China dan Malaysia dan memang tak ada tamu lokal yang saya temui ketika saya naik kecuali guidenya.
Sekilas mengenai gunung Batur, Gunung yang memiliki ketinggian 1.717mdpl ini pernah beberapa kali meletus diantaranya pada tahin 1917, 1926, 1965 dan 2004. Pada tahun 1926 lah letusan yang terbesar yang banyak memakan korban jiwa. Gunung ini memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10km dan yang terbesar dan terindah di dunia (katanya : Van Bemmelen, 1949). Gunung Abang yang memiliki ketinggian 2.152 itu merupakan pematang kalderanya. Di dalam kalderanya tersebut terdapat danau yang berbentuk seperti bulan sabit yang menempati bagian tenggara yang panjangnya sekitar 7,5km dan lebar 2,5km. kelilingnya sekitar 22km dan luasnya sekitar 16km. Sangat besar bukan gunung Batur ini?



Pendakian pun di mulai, perjalanan kami dimulai dari bebatu- batuan seperti karang, Saya mulai memasang senter dan masker dan siap berjalan. Gunung yang di anggap mudah bagi pendaki namun terasa sulit bagi saya yang dalam kondisi loyo ini. Kondisi nafas saya yang sedang sedikit sesak ini membuat saya gampang lelah dan berhenti untuk bersitirahat. Ribuan bintang menerangi langit yang gelap. Suara langkah kaki di belakang perlahan seperti berbisik di telinga saya agar saya memberikan jalan kepada kaki panjang yang terus melangkah seperti tak ada lelah.
“Biarlah bule-bule itu menyusul saya Pak” kata saya kepada Pak Made. Saya berharap Pak Made sabar dalam mengantarakan saya.

Para wisatawan menyaksikan terbitnya matahari dari Gunung Batur, Bali
“Pak dimana view terbaik selain disini untuk saya ambil gambar?” tanya saya kepada Pak Made
“Ada disana Bang, kita masuk kedalam semak dulu” jawabnya
Rumput-rumput tinggi dan lebat menghalangi saya melewati jalan setapak yang sempit. Tak lama berjalan akhirnya saya sampai dimana spot yang sepi. Angin kencang bertiup diikuti hawa dingin yang terus menusuk-nusuk saya. Saat itu langit masih gelap. Saya berkata dalam hati ” Hebat juga masih bisa ngejar sunrise dalam kondisi sakit begini”😎 Sayapun liat stopwatch, rupanya saya berjalan mencapi posisi disini membutuhkan waktu kurang lebih 1,5jam-an, lumayan bagi amatiran seperti saya ini.


Garis oranye mulai memecah kesunyian pagi. Suara sorak “Whoaaaaaa” terdengar dari kejauhan. Cahaya itu berlahan membelah horison bumi. Perlahan tampak lah keindahan danau Batur dan jejeran gunung-gunung di mata saya. Saya mulai sibuk dengan kamera saya untuk mengambil keindahan alam dari atas gunung Batur ini. Sunrise akhirnya muncul!!

Hamparan hijau di kawasan Gunung Batur
Angin kencang terus menghempas tubuh saya, seketika itu pula awan tebal disertai kabut mentutupi pemandangan indah yang sedang saya abadikan di dalam frame kamera saya. Antara puas dan tidak puas yang saya rasa ketika itu. Karena kabut yang begitu tebal menutupi landscape yang mau saya ambil gambarnya. Saya terus menunggu hingga kabut itu hilang, namun kabut tetap setia menyelimuti pemandangan indah di hadapan saya 😭.

Wisatawan sedang menysuri Gunung Batur
Akhirnya saya memutuskan untuk keliling komplek gunung Batur ini. Sedangkan para wisatawan kebanyakan memutuskan langsung turun kembali. Sebelum saya melanjutkan keliling di gunung Batur, saya turun sedikit ke bawah untuk melihat kawah bekas letusan. kawah yang cukup besar ni biasanya dijadikan tempat upacara khusus umat hindu.

Beberapa wisatawan mancanegara turun dari Gunung Batur
Dan tak jauh di sebelah kanan kawah terdapat gua yang dipenuhi bebatuan yang dijadikan tempat sembahyang umat hindu. Tak sembarang orang yang boleh masuk ke dalam gua itu karena gua itu memang dijadikan tempat yang suci.

Terdapat gua yang sikeramakan oleh umat hindu di Bali
Setelah itu, Saya berjalan ke arah kiri dari kawah, Saya melihat beberapa turis sedang mencoba merebus telur di dalam uap panas alami yang bisa ditemukan dibeberapa areal gunung Batur.
Setelah puas keliling di areal dekat kawah, kami pun berjalan ke sisi barat gunung Batur, tak banyak turis yang berjalan ke arah sini. Saya hanya berjalan sendiri ditemani Pak Made dan 4 wisatawan asing. Dari sini kita bisa melihat hijaunya Desa Sukawana dengan perkebunannya dan aliran lava bekas letusan yang kini menjadi pasir berwarna hitam yang dijadikan sebagai tambang pasir vulkanik. Wow!! Areal gunung batur memang sangat luas dan indah. mungkin suatu hari saya kan camping disini.



INFORMASI TAMBAHAN :
Hotel Segara & Restaurant
Desa Kedisan, Kintamani, Bangli (Dari turunan Kintamani lurus sampai ketemu pertigaan belok ke kiri)
Bali 80652
Telp : (0366) 51136
Kontak Driver Bli Eka : 0857 388 31814 / 0819 1641 3841 (2014)
Kontak Guide Batur Pak Made : 0819 1625 0545 (2014)
Trekking Gunung Batur :
1. Gunakan sepatu atau sandal yang nyaman dan sol yang kuat
2. Bawa pakaian hangat
3. Gunung batur tidak terlalu tinggi dan memiliki trek yang lebih mudah dicapai daripada gunung lainnya, namun kesiapan fisik dan mental tetap di butuhkan.
4. Gunakan Jasa guide diperlukan apabila belum mengetahui jalur menuju puncak batur.